Wajibkah Memberi Salam Tempel?

8 Jul 2015

Berbicara tentang tradisi Lebaran, tentu anak-anak tak asing lagi dengan yang namanya salam tempel. Salam yang berisi doa dari keluarga dan kerabat dekat ini biasanya diberikan saat Hari Raya Idul Fitri. Tentu yang menjadikan salam tempel menarik bukan semata doa yang dipanjatkan, tetapi juga isi dari amplop saat salam tempel itu dilakukan. Tak heran jika anak-anak sangat mengharapkan salam tempel ini sebagai sebuah hadiah Lebaran yang dapat digunakan untuk membeli barang yang mereka sukai.

Salam tempel biasanya diberikan mereka yang sudah berkeluarga pada anak-anak yang masih kecil. Tentu sah-sah saja memberi salam tempel pada anak-anak dengan nominal berapapun asalkan dilakukan secara ikhlas. Tapi seringkali salam tempel ini menjadi kehilangan maknanya atau bahkan bergeser maknanya menjadi sebuah hadiah yang wajib diberikan saat Lebaran pada anak-anak. Padahal salam tempel seyogianya hanya simbolisasi harapan dan doa pada anak-anak agar menjadi anak yang rajin dan sholeh.

Banyak anak-anak yang kecewa tatkala mendapat salam tempel lebih sedikit dari teman-temannya. Alhasil mereka jadi malas beribadah dan uring-uringan di rumah. Kalau sudah begini salam tempel bukan menjadi tradisi yang baik, tapi ibarat memakan buah simalakama bagi pemberinya. Kalau sudah begini makna salam tempel menjadi hilang, bukan menjadi sebuah refleksi akan kemenangan di hari Idul Fitri yang suci ini.

Berbicara tentang salam tempel, aktivitas memberi amplop berisi uang pada anak-anak ini hendaknya tidak menjadi tradisi yang dibiarkan tanpa ada pesan moral. Seringkali salam tempel dimaknai anak-anak untuk menandai siapa kerabat yang dermawan dan siapa yang pelit. Padahal salam tempel seyogianya dimaknai sebagai sebuah contoh dan bukti nyata dalam memberi secara ikhlas. Kelak anak-anak yang mendapat salam tempel ini akan melakukan hal yang sama pada anak-anak mereka di masa mendatang tatkala Lebaran tiba.

Memperbaharui makna salam tempel ini memang bukanlah hal yang mudah, apalagi tradisi ini sudah dibiarkan layaknya kewajiban bagi anak-anak. Ajarkan anak-anak untuk memberi uang yang mereka peroleh pada anak yatim piatu di panti asuhan atau orang yang membutuhkan. Tanamkan pada diri anak bahwa memberi itu jauh lebih indah dibandingkan menerima dari orang lain. Tatkala persepsi keindahan memberi ini sudah tertanam dengan baik dalam otak anak, yakinlah bahwa salam tempel adalah sebuah tradisi yang baik untuk diteruskan.

Lewat salam tempel, mari kita ajarkan anak-anak kita untuk menjadi seorang pemberi yang dermawan, bukan penerima rutin. Bukankah memberi juga adalah amal ibadah tersendiri bagi kita untuk mendapatkan pahala yang berlimpah. Tentu jauh lebih berharga bagi anak-anak dan kita semua untuk memberi karena salam tempel dari Tuhan jauh lebih besar dibandingkan salam tempel dari kerabat, yakni derajat kita dinaikkan di hadapan-Nya. Selamat memaknai tradisi salam tempel dengan pola pikir yang baru!


TAGS ngaBLOGburit2015


-

Author

Merekam fenomena kehidupan lewat kata dan cerita

Follow Me


Categories

Archive