Tradisi Lebaran Rasa Nusantara

8 Jul 2015

Ketika ditanya tentang arti perbedaan, mungkin kita semua bisa memberikan definisi perbedaan secara berbeda satu sama lain. Saat satu pihak memandang perbedaan sebagai sebuah ancaman, bisa jadi pihak lain memandang perbedaan sebagai sebuah kekayaan tersendiri. Mungkin itulah yang menjadikan Indonesia seperti saat ini. Saat pemuda-pemudi Indonesia merumuskan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan, saat itu pula kita mendefinisikan arti perbedaan itu sendiri.

Sebagai negara yang terdiri dari banyak suku, agama, ras, dan golongan, Indonesia diberi anugerah yang melimpah akan banyaknya perbedaan. Saat melihat ke layar kaca akan banyaknya etnis Rohinga yang mengungsi akibat banyaknya ancaman di Myanmar, saat itu pula kita sadar bahwa negara kita adalah negara yang toleran. Melihat perbedaan perlakuan pada suku atau etnis tertentu di sebuah negara secara keji, saat itu pula kita sadar bahwa Indonesia layak menjadi contoh lewat slogan “Bhinneka Tunggal Ika” untuk mengajarkan tentang arti perbedaan.

Memang tak dapat dimungkiri jika penetapan bulan puasa dan perayaan Hari Idul Fitri masih menjadi sebuah perbedaan yang belum menemukan titik temu. Namun apakah perbedaan itu lantas menjadikan kita tidak kompak dalam menjalankan ibadah puasa? Tentu tidak, bukan. Buktinya sampai hari ini, Indonesia tetaplah damai dan tekun berpuasa tanpa melihat perbedaan sebagai sebuah ancaman. Setiap orang saling menghormati satu sama lain karena menyadari bahwa Indonesia bukanlah negara yang dicapai dari jasa 1 tangan saja, melainkan ratusan juta pasang tangan yang rela berkorban demi memperjuangkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat.

Kita sadar bahwa kearifan lokal Indonesia sangatlah kaya dan beragam, sehingga tradisi Lebaran yang ada pun beragam dan berbeda satu sama lain. Saat suatu daerah melakukan tradisi A, bisa jadi daerah lain melakukan tradisi B. Tentu itu semua sebuah kekayaan budaya dan khazanah bangsa yang harus dilestarikan. Jangan sampai arus globalisasi yang demikian cepat merasuki bangsa melalui budaya Barat malah melunturkan tradisi yang sudah membudaya dalam masyarakat kita.

Mungkin kita patut belajar dari Jepang, di mana tradisi dan teknologi bisa hidup berdampingan tanpa membunuh satu sama lain. Meskipun negara mereka terkenal sebagai penghasil teknologi canggih, mereka tak lupa untuk mempertahankan jati diri mereka sebagai orang Jepang dengan tradisi yang boleh dikatakan kuno. Tapi justru itulah yang membuat Jepang digemari turis asing, yakni karena keaslian dari negara itu sendiri. Rasanya kita bisa memetik banyak pelajaran berharga tentang arti budaya sesungguhnya dari Jepang.

Sebagai negara yang jauh lebih kaya budaya, tradisi, dan kebiasaan dari Jepang, kita patut malu jika kita tidak bisa menjaga tradisi bangsa kita dengan baik. Salah satu tradisi yang harus kita jaga itu adalah tradisi Lebaran yang boleh dikatakan unik. Kita bisa mengenal puluhan atau bahkan ratusan tradisi Lebaran yang tidak ditemukan di negara lain dan hanya Indonesia yang memilikinya. Tinggal tugas kita adalah melanjutkan dan membudayakan tradisi itu dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan sampai tradisi Lebaran yang begitu baik dari Indonesia, justru akhirnya berakhir di museum karena anak mudanya merasa tradisi tersebut kuno dan tidak relevan dengan kemajuan zaman. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai akar budayanya sendiri. Tentu jika kita ingin negara kita disegani, maka kita harus mencintai apa yang kita miliki terlebih dahulu, bukan mencintai apa yang dimiliki negara lain.

Tradisi memang bukanlah hal yang futuristik, mewah, atau glamor, tapi tradisi adalah jati diri. Saat sebuah bangsa kehilangan jati dirinya, maka kehancuran bangsa itu sudah diambang mata. Maka dari itu, mari kita jaga tradisi Lebaran ini agar bisa disaksikan anak cucu kita kelak dan tidak diklaim oleh negara lain sebagai kekayaan khazanah budayanya!


TAGS ngaBLOGburit2015


-

Author

Merekam fenomena kehidupan lewat kata dan cerita

Follow Me


Categories

Archive