Ngabuburit Penuh Makna

2 Jul 2015

Ramadan tanpa ngabuburit itu ibarat sayur tanpa garam. Tidak afdol rasanya jika puasa tidak diikuti dengan ngabuburit. Ngabuburit itu tradisi yang unik dan memberi makna baru tentang arti Ramadan itu sendiri. Melalui ngabuburit, kita bisa mendapatkan banyak hal, mulai dari teman baru, pacar baru, sampai uang 1 juta dari BLOGdetik lewat program ngaBLOGburitnya. Hehehe…

Buat saya pribadi, ngabuburit itu wajib hukumnya. Mengisi waktu kosong hingga waktunya berbuka tiba adalah sebuah hal yang wajib dilakukan agar waktu yang tersedia tidak sia-sia. Kita bisa membantu orang tua di dapur saat menyiapkan hidangan berbuka puasa, bisa juga menjadi kakak asuh di panti asuhan, atau mengerjakan hobi yang kita sukai. Semua tentu kita lakukan dengan tujuan baik, mulia, dan dapat memberikan hal positif bagi diri kita maupun orang lain.

Berbicara tentang ngabuburit, saya jadi teringat kejadian yang menimpa keluarga kami selama 2 minggu terakhir. Nenek saya mengalami gejala stroke yang parah di rumahnya. Alhasil, nenek saya dibawa ke rumah sakit untuk diberikan perawatan secara intensif. Rupanya rumah sakit pun mengatakan bahwa otak nenek saya sudah mengalami pendarahan hebat melalui CT Scan hingga akhirnya keluarga memutuskan untuk mengeluarkan darah tersebut dengan jalan operasi.

Saya berpikir semua akan baik-baik saja. Namun kenyataan berkata lain. Sehabis dioperasi, kondisi nenek saya terus memburuk. Singkat kata, selang 2 hari setelah waktu operasi, nenek saya sudah tidak bernafas lagi. Nafas nenek saya seolah masih ada karena bantuan alat canggih di ruang ICU. Kami sekeluarga sebenarnya tak tega untuk mencabut alat-alat bantu itu, tapi kami sadar bahwa sudah tiba saatnya bagi kami untuk merelakan nenek pulang pada Sang Pencipta.

Di detik-detik pencabutan alat-alat bantu pernafasan itu, saya menangis. Saya teringat betapa sering saya menolak ajakan nenek saya untuk berbuka bersama di rumah makan karena alasan kesibukan. Saya teringat betapa sering saya merasa malas mendengar nasihat nenek saya saat berkunjung ke rumahnya. Saya teringat betapa sering saya bersikap terpaksa ketika nenek mencium kedua pipi saya karena merasa malu dengan orang banyak. Kini saat nenek tiada, semua hanya menjadi sebuah penyesalan. Penyesalan karena semua terlambat untuk dilakukan.

Ngabuburit pun seolah menjadi waktu yang kosong karena ada ruang di hati kami semua yang hampa. Tak ada yang pernah menduga bahwa nenek akan meninggal dengan kondisi badan yang segar bugar sepanjang bertemu dengan beliau. Meskipun nenek berumur 79 tahun, beliau masih mengendarai mobilnya sendiri. Saat mengingat momen terakhir bersama nenek, saat itu pula airmata saya mengalir. Andai saja waktu bisa diulang kembali, saya mau menghabiskan waktu sedikit lebih banyak agar bisa berbincang lebih lama dengan nenek. Tapi mata nenek sudah terpejam untuk selamanya.

Saat kita masih diberi kesempatan untuk ngabuburit, pergunakan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya. Ungkapkan kata cinta pada orang yang kita kasihi. Cinta itu tidak mesti dilakukan pada hari tertentu saja, seperti Hari Ayah dan Hari Ibu. Cinta itu haruslah diaplikasikan secara nyata dalam tindakan, bukan hanya ucapan “I love you” yang sirna ditelan waktu. Bantulah orang tua yang letih bekerja untuk mencari nafkah saat ngabuburit, masaklah sebuah menu sederhana untuk orang tua tercinta, atau berikan senyuman saat mereka pulang ke rumah. Ingat, orang tua tak pernah mengharap apapun dari anaknya, selain rasa cinta dan perhatian yang tulus.

Kita tak pernah tahu kapan ngabuburit terakhir kita bersama orang yang kita cintai. Maka dari itu, pergunakan setiap waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Saat mereka yang kita cintai tiada, saat itu kita sadar bahwa tak ada lagi ngabuburit-ngabuburit lain yang bisa menggantikan keberadaan mereka selamanya. Mari kita maknai ngabuburit dengan cinta!


TAGS ngaBLOGburit2015


Related Post

-

Author

Merekam fenomena kehidupan lewat kata dan cerita

Follow Me


Categories

Archive