Ramadan Tanpa Sedu Sedan

23 Jun 2015

Sumber: www.portalkesehatan.com

Sumber: www.portalkesehatan.com

Ramadan selalu identik dengan puasa, munggahan, sahur, pesantren kilat, dan masih banyak kegiatan ibadah lainnya. Ibarat sebuah bejana, hati kita akan terisi penuh dan sejuk tatkala melakukan amal ibadah yang baik dengan penuh ucapan syukur. Bisa berkumpul, makan satu meja, dan bercengkerama dengan keluarga besar secara utuh. Itulah berkah Ramadan yang kita rasakan bersama.

Berbicara tentang Ramadan, saya teringat begitu banyak iklan produk khas berbuka puasa yang gencar sekali mempromosikan produk mereka. Ada sirup X, ada kue Y, dan ada minuman Z. Masing-masing mencitrakan diri sebagai makanan atau minuman yang paling pas untuk dikonsumsi tatkala waktu berbuka puasa tiba. Alhasil, banyak orang berbondong-bondong untuk membeli sejumlah produk tersebut karena dianggap perlu untuk mengembalikan metabolisme yang hilang selama berpuasa.

Wajar rasanya jika tingkat konsumsi selama bulan puasa justru boleh dikatakan paling tinggi, jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. Padahal secara logis, tingkat kebutuhan belanja saat puasa seharusnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan hari biasa. Belum lagi kebiasaan makan di restoran saat berbuka dengan memesan semua menu yang ter-, entah itu terenak, termahal, tergurih, dan lain sebagainya pun masih membudaya dalam masyarakat kita.

Alhasil sehabis bulan Ramadan usai, kita bukan saja mendapat berkah yang berlipat ganda, tapi juga tumpukan lemak yang berlipat ganda pula pada pipi kiri dan kanan, serta lipatan perut. Belum lagi “berkah-berkah” lain yang tidak diharapkan, seperti diabetes, obesitas, dan berbagai penyakit lainnya akibat konsumsi makanan yang tidak seimbang dan terlalu berlebihan. Kalau sudah begini seusai bulan Ramadan, kita bukan hanya mendapat berkah, tapi juga sedu sedan dari berbagai kebiasaan yang dilakukan selama Ramadan plus keuangan yang menipis akibat gaya hidup konsumerisme.

Tidak salah memang jika kita menjadikan Ramadan sebagai bulan yang spesial, istimewa, dan khusus karena begitu banyak berkah dan ampunan yang dilipatgandakan di bulan ini. Hanya saja, sayang rasanya jika kesucian bulan ini hanya dinilai dari kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi saat berbuka dan sahur. Bukankah esensi dari Ramadan itu sendiri terletak pada ibadah itu sendiri. Bagaimana cara menahan kesabaran, emosi, dan mendekatkan diri pada-Nya. Itu jauh lebih penting daripada memesan semua menu ter- di restoran dan memewahkan diri dengan segala macam makanan saat berbuka.

Semoga renungan singkat ini bisa memberikan sudut pandang baru untuk menilai Ramadan sebagai sebuah proses pendewasaan diri menjadi pribadi yang lebih baik, bukan ajang untuk melampiaskan diri dengan semua makanan dan minuman yang selama ini hanya bisa diidamkan. Selamat menunaikan ibadah puasa dan memperingati kesucian bulan Ramadan 1436H yang penuh berkah dan ampunan ini!

ngaBLOGburit


TAGS ngaBLOGburit2015


-

Author

Merekam fenomena kehidupan lewat kata dan cerita

Follow Me


Categories

Archive