Saat Lebaran Jadi Kemewahan Tersendiri

23 Jul 2014

929d888fa4e238d8ae4c6a1d62f95065_mudik2Saat berwisata ke negeri jiran, aku bertemu dengan salah satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di kawasan Chow Kit. Sebut saja namanya Bu Esih. Ia sudah bekerja di Kuala Lumpur selama 8 tahun sebagai karyawan sebuah restoran masakan Melayu. Sambil memesan nasi lemak, aku bertanya, “Sudah berapa lama ibu tidak pulang ke Indonesia saat Lebaran?” Dengan Bahasa Sunda yang masih kental, Bu Esih menjawab, “Ibu mah udah 3 tahun belum pulang ke Cimindi. Boro-boro bisa Lebaran, ini bos minta kerja terus. Ibu juga harus cari uang buat anak ibu yang sudah kuliah.”

Sembari menghabiskan nasi lemak di meja, aku bertanya lagi pada Bu Esih. “Bu, tahun ini kira-kira bakal pulang kampung ga?” tanyaku perlahan. Sambil membersihkan meja, Bu Esih menjawab, “Ga tahu dek, ibu juga bingung. Kalau ibu pulang kampung, ibu khawatir bos repot. Ibu juga penginnya pulang, tapi ongkosnya mahal. Lebaran bisa pulang aja ibu mah udah syukur. Itu mah udah berkah buat ibu, apalagi kalau bos ijinin.” “Semoga ibu bisa pulang ke Bandung ya.” kataku sembari meninggalkan Bu Esih di restoran itu. Bu Esih hanya bisa tersenyum dan mengamini perkataanku.

Bagi Bu Esih, lebaran adalah sebuah kemewahan yang harus disyukuri dan dinikmati dengan sebaik-baiknya. Jauhnya jarak antara Kuala Lumpur dan Bandung membuat Bu Esih harus menunda bertahun-tahun silaturahmi saat Lebaran dengan anak-anak dan sanak saudaranya. Padahal Lebaran Idul Fitri seyogianya menjadi ajang berkumpul keluarga untuk saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Tuntutan kehidupan dan profesi sebagai pahlawan devisa di Kuala Lumpur membuatnya hanya bisa berlebaran lewat SMS dan telepon saja.

Aku yakin Bu Esih akan memanfaatkan momen Lebaran Idul Fitri saat pulang kampung dengan sebaik-baiknya untuk temu kangen dengan anak tercinta di rumah. Mahal dan mewahnya nilai lebaran itu Bu Esih syukuri sebagai anugerah Sang Pencipta. Setiap detik, setiap menit, setiap jam tatkala menginjak kampung halaman pasti akan dimaknai sebagai sebuah perjalanan berharga yang tidak terlupakan. Belenggu pekerjaan dan tuntutan ekonomi membuat Bu Esih melihat lebaran begitu berarti dan bermakna tatkala masih bisa melihat orang yang beliau kasihi menyambutnya saat pulang ke rumah.

Saat Bu Esih harus menunggu bertahun-tahun untuk pulang kampung saat Lebaran Idul Fitri, seringkali kita yang mempunyai kesempatan yang besar untuk mudik menyia-nyiakan hal tersebut. Alasannya bermacam-macam, mulai dari macet, banyak tugas, sibuk, dan lain sebagainya. Kita melihat mudik sebagai bagian dari Lebaran Idul Fitri yang bersifat tradisi dan kebiasaan yang membosankan. Berkumpul di kampung halaman, bertemu keluarga besar, dan bermaaf-maafan seolah menjadi lagu kebangsaan yang sudah kita hafal liriknya, namun miskin kita jiwai maknanya.

Tatkala Lebaran Idul Fitri tahun ini tiba, sudah sepatutnya kita merenungkan kembali makna dari Idul Fitri itu sendiri. Kita harus kembali ke fitrah, kembali menjadi orang yang “baru”, baik di dalam maupun di luar. Seringkali kita rajin mempersiapkan semua perlengkapan Lebaran yang baru, mulai dari baju, peralatan sekolah, dan perabotan baru. Tapi kita lupa sesungguhnya yang harus baru adalah hati kita masing-masing. Sama halnya dengan handphone, kita tak ingin sampul depannya saja yang bagus, tapi aplikasi didalamnya juga harus diupdate secara berkala, bukan?

Saat langkah kaki kita terasa berat untuk pulang ke kampung halaman, saat lidah kita kelu untuk mengucapkan maaf pada orang yang pernah kita sakiti, saat mulut kita masih gemar berbicara sumbang tentang orang lain, maka sesungguhnya Lebaran Idul Fitri itu hanyalah liburan biasa tanpa makna. Lebaran Idul Fitri itu seyogianya dijadikan sebuah kegembiraan, kebebasan, dan kemenangan bersama atas berbagai hawa nafsu duniawi yang selama ini menghantui hidup kita.

Jika selama bulan Ramadan ini, kita gemar sekali mencaci maki orang lain di sosial media karena berbeda pilihan politik. Momen Lebaran Idul Fitri ini hendaknya menjadi ajang introspeksi bagi kita untuk lebih belajar bersabar dan menahan diri. Sama halnya dengan pesan Joko Widodo, presiden terpilih Republik Indonesia yang mengatakan, “Lupakan nomor 1. Lupakan nomor 2. Kita harus kembali pada Persatuan Indonesia. Salam 3 jari!” Jangan lagi perbedaan membuat kita terpisah, tapi Lebaran Idul Fitri ini merekatkan apa yang selama ini terpisah oleh jarak dan waktu.

Kita tak pernah tahu kapan kita atau salah satu sanak keluarga kita meninggal. Kita tak pernah bisa menduga takdir Sang Pencipta tatkala ada keluarga yang berniat berlebaran bersama justru dipisahkan karena tragedi MH17 di Ukraina. Melihat dan memaknai bahwa hidup hanyalah perhentian sementara, maka sudah seyogianya kita memaknai setiap Lebaran Idul Fitri sebagai sebuah kesempatan berharga yang patut kita syukuri. Selama Sang Pencipta masih mempercayakan nafas kehidupan untuk kita, pakai dan manfaatkan itu untuk berbuat kebajikan.

Sama halnya dengan Bu Esih, Lebaran Idul Fitri seyogianya dimaknai sebagai sebuah “kemewahan”. Tatkala kita bisa menghargai barang “mewah” yang kita miliki tersebut, kita akan sadar bahwa kita adalah orang yang beruntung. Kita beruntung bisa berjumpa kembali dengan keluarga besar di kampung halaman. Kita beruntung bisa bermaaf-maafan dengan tetangga dan rekan kantor yang menyebalkan. Kita beruntung bisa bersimpuh di bawah kaki ibu kita tercinta. Kita beruntung karena kita masih diberi waktu untuk melakukan tradisi mudik tersebut.

Bayangkan dengan keluarga korban MH370, MH17, dan Gaza yang menangis melihat anggota keluarga mereka meninggal. Jangankan merayakan Lebaran Idul Fitri, selamat dari medan perang dan bencana saja sudah sebuah kemewahan bagi mereka. Sebagai manusia yang masih diberi mandat dan tanggung jawab oleh Sang Pencipta, sudah seyogianya kita mengamalkan kepercayaan ini dengan mengisi Lebaran Idul Fitri tahun ini dengan baik.

Percayalah saat kita menganggap Lebaran Idul Fitri sebagai sebuah “kemewahan” atau bahkan Lebaran terakhir, kita bisa memaknai arti sesungguhnya dari Idul Fitri. Lebaran Idul Fitri bukan sekadar tradisi tahunan belaka, tapi lebih dari itu merupakan ajang silaturahmi keluarga yang sangat bernilai dan berharga bagi seluruh umat Muslim di dunia. Selamat memperingati Hari Raya Idul Fitri 1435H!


TAGS NgaBLOGburit


-

Author

Merekam fenomena kehidupan lewat kata dan cerita

Follow Me


Categories

Archive